Dilema Menjadi Ibu yang Wajib Bahagia, Padahal Hati Sedang Hancur-hancurnya

Dari kasus Ibu Kanti, kita bisa belajar banyak hal dan memetik hikmahnya :)

20 Mei 2022

Jagat maya dihebohkan dengan berita seorang ibu yang tega menggorok leher 3 buah hatinya. Perempuan bernama Kanti Utama adal Brebes, Jawa Tengah, yang berusia 35 tahun tersebut mengaku melakukan aksi nekat tersebut karena tidak mau anak-anaknya hidup susah dan menanggung kesedihan seperti dirinya. Ia justru ingin menggorok anaknya untuk menyelamatkan mereka sebelum ia mati.

Menanggapi peristiwa ini, warganet pun terbagi menjadi dua kubu, sebagian menyalahkan sosok perempuan yang dulu berprofesi sebagai perias pengantin tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang merasa prihatin pada kondisinya. Dugaan bahwa Kanti Utami mengalami depresi pun semakin kuat ketika beredar video wawancaranya yang menunjukkan kondisi Kanti yang tidak biasa saat menjawab pertanyaan.

Sebetulnya, apa saja yang dapat menyebabkan depresi hingga membuat ibu tega melakukan kekerasan terhadap darah dagingnya sendiri?

1. Depresi merupakan hasil akhir dari penumpukkan stres pada seseorang.

Depresi
Depesi | Foto oleh Kat Smith dari Pexels

Masih banyak orang yang menganggap sepele kesehatan mental, salah satunya stress. Padahal, penumpukkan stress terus-menerus tanpa penanganan yang tepat berpotensi membuat seseorang mengalami depresi. Ketika sudah mencapai tahap depresi, penderitanya sudah tidak dapat membedakan lagi antara halusinasi dan realita. Keadaan tersebut rentan membuat seseorang melakukan hal di luar nalar atau tidak masuk akal bagi orang pada umumnya.

Gejala tersebut ditunjukkan oleh Kanti Utami hingga ia nekat melakukan hal tersebut pada anak-anaknya. Ia beranggapan tindakan tersebut akan membuat mereka terselamatkan dari kesedihan. Kemungkinan ia stres menghadapi berbagai persoalan ekonomi sembari mengasuh 3 anak tanpa bantuan suami.

2. Perempuan pasca melahirkan rentan mengalami depresi yang disebut Post Partum Depression (PPD)

Depresi
Post Partum Depression | Foto oleh Kat Smith dari Pexels

Data dari National Health Service di Inggris menyebutkan PPD merupakan kondisi yang dialami oleh 1 dari 10 perempuan setelah melahirkan. Berbeda dengan baby blues syndrome yang umumnya berhenti di minggu kedua setelah persalinan, PPD bertahan lebih lama dan memengaruhi kondisi mental Moms secara perlahan-lahan. Karena gejalanya yang muncul secara gradual inilah banyak perempuan tidak menyadari bahwa dirinya mengidap PPD. Kanti sendiri diketahui telah memiliki 3 anak dan mungkin saja ia telah mengalami PPD tanpa sepengatahuannya.

PPD dimulai dari rasa sedih, kehilangan selera melakukan aktivitas sehari-hari, hingga dapat mengakibatkan halusinasi bahwa tindakan Moms akan menyakiti bayi. Jika tidak segera mendapat penanganan, kondisi PPD ini bisa berpotensi memburuk bahkan dapat menyebabkan ibu melakukan hal yang membahayakan diri dan anak-anaknya.

3. Kesepian dan tidak punya tempat mengadu dapat menimbulkan depresi semakin parah yang berujung pada tindakan nekat

Kesepian
Kesepian | Foto oleh Kat Smith dari Pexels

Jangan anggap sepele perasaan kesepian! Bagi sebagian orang, tidak adanya tempat bersandar atau bercerita bisa mengakibatkan depresi atau memperburuk kondisi depresi yang sudah ada. Seperti diketahui, hal ini pun dialami oleh Kanti Utami. Dalam berbagai wawancara, para tetangga menyebutkan bahwa Kanti merupakan sosok pendiam. Apalagi, sang suami juga bekerja di Jakarta dan kemungkinan besar ia menjalani pernikahan jarak jauh. Sepertinya ia adalah sosok yang terbiasa memendam kesedihan dan bebannya seorang diri. Kondisi inilah yang mungkin menjadi faktor Kanti melampiaskan kesedihannya pada sosok yang lebih lemah di sekitarnya, yakni anak-anaknya.

4. Sifat sering mengritik diri sendiri juga rentan menimbulkan depresi pada seseorang

Depresi
Sering mengkritik diri terus-menerus dapat berujung pada depresi | Foto oleh Engin Akyrut dari Pexels

Memiliki sifat tidak lekas puas dan kritis sebetulnya bukan hal yang salah. Namun, ketika hal tersebut membuat kita tidak pernah puas pada realita yang tidak seindah ekspektasi, ternyata dapat berujung pada kondisi depresi. Sifat sering mengkritik diri sendiri seperti ini dapat terjadi akibat pola asuh masa kecil ataupun gen yang diturunkan orang tua kepada kita. Kanti Utami pun sepertinya mengalami kondisi ini karena ia sempat menyebutkan ketakutan bahwa anaknya akan hidup susah jika suaminya kehilangan pekerjaan.

Pada akhirnya, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Kanti kepada 3 buah hatinya memang tidak dapat dibenarkan. Namun, kejadian tersebut pasti tidak terjadi begitu saja jika ia atau orang-orang di sekitarnya mengenali gejala depresi yang dialami oleh Kanti Utami. Pada akhirnya, semua perlu menyadari bahwa kesehatan mental sama pentingnya seperti kesehatan fisik. Tidak seharusnya kita memberikan stigma buruk bagi para penderita kesehatan mental seperti kurang beriman atau sejenisnya.

Saat melihat seseorang menunjukkan gejala depresi seperti sedih terus-menerus, perubahan perilaku yang signifikan, menarik diri secara sosial, atau bahkan mulai menyakiti diri  dan orang sekitarnya, segera tawarkanlah bantuan. Jangan buru-buru menghakimi sifat tersebut yang berpotensi membuat penderita semakin menarik diri. Bantuan termudah yang dapat diberikan misalnya menawarkan pendampingan dan perhatian. Jadilah sosok yang dapat mendengarkan keluh-kesah penderita. Jika kondisi depresi semakin buruk, kita dapat membantu penderita untuk mencari pertolongan profesional untuk menghindari kejadian buruk seperti yang dialami keluarga Kanti Utami.